VIVAnews - Ruang kantor tak akan pernah lepas dari penyejuk udara. Bahkan, kerap kali penyejuk udara dibuat sangat dingin untuk mencegah panas di luar masuk ke dalam ruangan. Namun, tahukah Anda, kalau ruangan terlalu dingin dapat memicu amarah, kurangnya konsentrasi, bahkan turunnya produktivitas.
Hal ini menurut sebuah survei yang dilakukan uSwitchforbusiness.com. Diketahui kalau tiga per empat responden mengatakan suhu yang terlalu dingin mengarah pada munculnya lebih banyak argumen dibandingkan suhu ideal.
Hampir sembilan dari sepuluh keluhan yang muncul di kantor terjadi akibat suhu ruangan yang terlalu dingin. Banyak yang mengatakan bahwa suhu tersebut membuat mereka kurang produktif.
Hampir 47 persen percaya bahwa penyejuk udara menyebarkan penyakit. Lalu, hampir tujuh berbanding delapan atau sekitar 68 persen mengatakan lebih memilih udara segar di luar ruangan.
"Bukannya mendinginkan suasana, suhu dingin dari penyejuk udara justru membuat munculnya banyak keluhan dan amarah," ujar James Constant, directur uSwitchforbusiness.com, dikutip Daily Mail.
Ia juga menambahkan bahwa, tiga perempat dari para pekerja menderita 'tipuan kemarahan udara'. Penelitian ini bisa jadi pertimbangan perusahaan apakah membuang uang terlalu banyak untuk penyejuk udara ketika para pekerja merasa kedinginan atau tidak.
• VIVAnews
Jumat, 26 Agustus 2011
Gemuk Itu Sehat, Asal....
VIVAnews - Kelebihan berat badan atau kegemukan sering identikkan dengan sesuatu yang buruk dan merugikan kesehatan. Namun, dua studi yang dipublikasikan pekan lalu menemukan, orang gemuk juga bisa sehat seperti orang dengan berat badan normal.
Dalam artikel di Jurnal Archives of Internal Medicine terbaru, ilmuwan menemukan, tingkat kesehatan orang gemuk tergantung dimana lemak tersimpan dalam tubuh. Pada orang normal dan gemuk, lemak di perut lebih berisiko tinggi terkena jantung dan diabetes dibandingkan dengan lemak yang ada di bokong atau paha.
Tetapi untuk penderita obesitas, risiko terbesar diakibatkan adanya akumulasi lemak di hati.
Dalam satu studi, peneliti di Universitas Tübingen, Jerman, meneliti 314 pasien dan membaginya dalam empat kelompok: berat badan normal, kelebihan berat badan, obesitas tapi sensitif terhadap insulin, dan obesitas dengan resistensi insulin.
Ahli menemukan, tidak semua pasien obesitas memiliki profil kesehatan yang sama. Beberapa mengalami penyumbatan arteri, yang merupakan faktor risiko serangan jantung serta resisten insulin yang merupakan prekursor diabetes. Saat ini, tubuh kehilangan kepekaan terhadap hormon darah yang mengatur gula.
Tapi sekitar 25 persen penderita obesitas memiliki arteri bersih dan tidak mengalami resistensi insulin. Dari sisi medis, orang-orang ini tidak berbeda dari pemilik berat badan normal.
"Tidak seorang pun yang akan mengatakan kelebihan berat badan sehat," kata Lewis Landsberg, MD, dari Northwestern University Center on Obesity di Chicago. "Pesannya adalah kelebihan berat badan jauh lebih sehat bagi sebagian orang daripada yang lain," ucapnya dikutip Health.com
Perbedaan besar antara pasien obesitas dan rekan-rekan mereka yang sehat terkait akumulasi lemak di hati. Orang gemuk yang resisten insulin memiliki tingkat lemak hati lebih dari hampir dua kali lipat (8,8 persen) ketimbang orang dengan berat normal (3,5 persen).
Sebagai perbandingan, berat badan normal dan orang gemuk memiliki tingkat lemak hati masing-masing 1,9 persen dan 3,8 persen.
• VIVAnews
Dalam artikel di Jurnal Archives of Internal Medicine terbaru, ilmuwan menemukan, tingkat kesehatan orang gemuk tergantung dimana lemak tersimpan dalam tubuh. Pada orang normal dan gemuk, lemak di perut lebih berisiko tinggi terkena jantung dan diabetes dibandingkan dengan lemak yang ada di bokong atau paha.
Tetapi untuk penderita obesitas, risiko terbesar diakibatkan adanya akumulasi lemak di hati.
Dalam satu studi, peneliti di Universitas Tübingen, Jerman, meneliti 314 pasien dan membaginya dalam empat kelompok: berat badan normal, kelebihan berat badan, obesitas tapi sensitif terhadap insulin, dan obesitas dengan resistensi insulin.
Ahli menemukan, tidak semua pasien obesitas memiliki profil kesehatan yang sama. Beberapa mengalami penyumbatan arteri, yang merupakan faktor risiko serangan jantung serta resisten insulin yang merupakan prekursor diabetes. Saat ini, tubuh kehilangan kepekaan terhadap hormon darah yang mengatur gula.
Tapi sekitar 25 persen penderita obesitas memiliki arteri bersih dan tidak mengalami resistensi insulin. Dari sisi medis, orang-orang ini tidak berbeda dari pemilik berat badan normal.
"Tidak seorang pun yang akan mengatakan kelebihan berat badan sehat," kata Lewis Landsberg, MD, dari Northwestern University Center on Obesity di Chicago. "Pesannya adalah kelebihan berat badan jauh lebih sehat bagi sebagian orang daripada yang lain," ucapnya dikutip Health.com
Perbedaan besar antara pasien obesitas dan rekan-rekan mereka yang sehat terkait akumulasi lemak di hati. Orang gemuk yang resisten insulin memiliki tingkat lemak hati lebih dari hampir dua kali lipat (8,8 persen) ketimbang orang dengan berat normal (3,5 persen).
Sebagai perbandingan, berat badan normal dan orang gemuk memiliki tingkat lemak hati masing-masing 1,9 persen dan 3,8 persen.
• VIVAnews
Waspada Kandungan Gula Pada Susu Anak
VIVAnews - Selama ini Anda pasti menganggap susu adalah sumber nutrisi terbaik bagi buah hati. Tetapi, hati-hati saat memberikannya karena kandungan gula tambahan pada susu justru bisa berdampak buruk bagi kesehatannya kelak.
Salah satunya adalah obesitas pada anak di Indonesia yang saat ini jumlahnya kian meningkat. Hal ini diungkapkan oleh Dr. dr. Saptawati Bardosono MSc, ahli gizi dari Departemen Nutrisi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
"Hal yang jadi perhatian bukan hanya anak-anak Indonesia yang mengalami malnutrisi. Tetapi, menurut penelitian kami, yang baru saja dilakukan pada 2011 ini, presentase anak-anak obesitas di Indonesia terus meningkat," katanya dalam acara bincang-bincang "Kebaikan Kandungan Alami Susu dalam Setiap Tahapan Kehidupan Manusia" yang diselenggarakan oleh Fonterra di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu 24 Agustus 2011.
Dokter Saptawati mengungkapkan, salah satu pemicu kegemukan atau obesitas pada anak adalah mengonsumsi susu yang berkadar gula tinggi karena mengandung gula tambahan. Ironisnya, hal ini belum banyak diketahui para orangtua.
Seperti dilansir dari cekgula.com, gula tambahan adalah semua bahan gula yang ditambahkan dalam makanan dan minuman selama proses produksi, pengolahan atau sebelum konsumsi (yaitu gula yang tidak terdapat dalam makanan secara alami). Apapun bahannya, gula yang ditambahkan dalam makanan dan minuman pada dasarnya sama dari sudut pandang gizi.
Berikut ini adalah berbagai jenis gula yang kemungkinan ditambahkan ke dalam susu anak:
- Gula, glukosa, dekstrosa, fruktosa, sukrosa
- Sirup seperti sirup jagung (sirup jagung padat), sirup glukosa (sirup glukosa padat), sirup jagung tinggi fruktosa, sirup gandum
- Gula jagung
- Madu, bubuk madu
"Penambahan gula pada susu anak memang membuat rasa susu menjadi lebih enak. Tak heran anak-anak menjadi sangat menyukainya. Tetapi, jika kandungan gula pada susu sangat tinggi, kalorinya pun juga tinggi," kata dr. Saptawati.
Hal inilah yang bisa memicu obesitas pada anak dan meningkatkan risiko penyakit diabetes melitus di kemudian hari. Sebagai pencegahannya, sangat penting untuk membaca tabel informasi gizi pada kemasan susu.
Jika kandungan gula tambahan sangat tinggi, sebaiknya hindari memberikannya untuk buah hati. Lalu, ketahui juga kebutuhan gula anak dengan menghitungnya melalui kalkulator gula di cekgula.com. (eh)
• VIVAnews
Salah satunya adalah obesitas pada anak di Indonesia yang saat ini jumlahnya kian meningkat. Hal ini diungkapkan oleh Dr. dr. Saptawati Bardosono MSc, ahli gizi dari Departemen Nutrisi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
"Hal yang jadi perhatian bukan hanya anak-anak Indonesia yang mengalami malnutrisi. Tetapi, menurut penelitian kami, yang baru saja dilakukan pada 2011 ini, presentase anak-anak obesitas di Indonesia terus meningkat," katanya dalam acara bincang-bincang "Kebaikan Kandungan Alami Susu dalam Setiap Tahapan Kehidupan Manusia" yang diselenggarakan oleh Fonterra di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu 24 Agustus 2011.
Dokter Saptawati mengungkapkan, salah satu pemicu kegemukan atau obesitas pada anak adalah mengonsumsi susu yang berkadar gula tinggi karena mengandung gula tambahan. Ironisnya, hal ini belum banyak diketahui para orangtua.
Seperti dilansir dari cekgula.com, gula tambahan adalah semua bahan gula yang ditambahkan dalam makanan dan minuman selama proses produksi, pengolahan atau sebelum konsumsi (yaitu gula yang tidak terdapat dalam makanan secara alami). Apapun bahannya, gula yang ditambahkan dalam makanan dan minuman pada dasarnya sama dari sudut pandang gizi.
Berikut ini adalah berbagai jenis gula yang kemungkinan ditambahkan ke dalam susu anak:
- Gula, glukosa, dekstrosa, fruktosa, sukrosa
- Sirup seperti sirup jagung (sirup jagung padat), sirup glukosa (sirup glukosa padat), sirup jagung tinggi fruktosa, sirup gandum
- Gula jagung
- Madu, bubuk madu
"Penambahan gula pada susu anak memang membuat rasa susu menjadi lebih enak. Tak heran anak-anak menjadi sangat menyukainya. Tetapi, jika kandungan gula pada susu sangat tinggi, kalorinya pun juga tinggi," kata dr. Saptawati.
Hal inilah yang bisa memicu obesitas pada anak dan meningkatkan risiko penyakit diabetes melitus di kemudian hari. Sebagai pencegahannya, sangat penting untuk membaca tabel informasi gizi pada kemasan susu.
Jika kandungan gula tambahan sangat tinggi, sebaiknya hindari memberikannya untuk buah hati. Lalu, ketahui juga kebutuhan gula anak dengan menghitungnya melalui kalkulator gula di cekgula.com. (eh)
• VIVAnews
Membaca Sinyal Kesehatan dari Tubuh
VIVAnews - Tubuh merupakan komunikator yang sangat baik, dan sering memberikan pesan yang sangat jelas. Kulit yang memerah berarti tubuh terkena terlalu banyak sinar matahari, perut keroncongan berarti tubuh kehabisan suplai bahan bakar.
Tetapi, banyak sinyal bahaya lain dari tubuh yang jarang kita ketahui. Kenali beberapa diantaranya agar dapat melakukan deteksi dini dan memeriksakan diri, seperti dikutip dari Shine.
Alis memendek
Untuk mengetahuinya, tahan pensil tegak lurus ke sudut luar mata Anda, jika alis pendek dan tak menyentuh pensil, menunjukkan tiroid yang kurang aktif.
Hormon tiroid memiliki banyak fungsi, salah satunya mengatur seberapa cepat sel-sel memperbaiki diri. Saat kadar hormon tiroid rusak, efeknya dapat dilihat di hampir setiap sel dalam tubuh Anda. Kekurangan tiroid menyebabkan rambut lebih tipis, penambahan berat badan, kelelahan, dan sembelit.
Lakukan tes darah untuk mengetahui level hormon. Bila rendah, Anda memerlukan obat-obatan agar mengembalikan hormon ke tingkat normal.
Jari manis panjang
Pemilik jari manis lebih panjang memiliki risiko lebih tinggi menderita osteoarthritis. Sebuah studi 2008 dalam jurnal Arthritis & Rheumatism, menyebut, wanita dengan jari manis lebih panjang dari telunjuk dua kali lebih mungkin untuk menderita osteoarthritis.
Meskipun tidak diketahui pasti, ilmuwan menyebut hal ini kemungkinan akibat paparan testosteron dalam kandungan yang lebih tinggi.
Menurut riset Universitas North Carolina di Chapel Hill pada 2009, mengurangi kelebihan berat badan 5 persen dari berat tubuh dapat membantu mengurangi risiko osteoarthritis lutut, jenis yang paling sering dijumpai.
Kuku menguning
Warna kuku yang berubah bukan hanya dapat menunjukkan infeksi, tetapi juga sering buang air dan kehausan terus menerus. Kondisi diabetes dapat menyebabkan glukosa untuk meneruskan protein kolagen di kuku dari merah muda menjadi kuning.
Untuk itu, lakukan tes diabetes. Jika hasilnya positif, lakukan perubahan gaya hidup dan minum obat yang dapat mengontrol penyakit ini.
Rambut tebal di bagian wajah dan tubuh
Rambut yang tumbuh berupa tebal di dagu, pipi, dada, perut dan punggung bisa menjadi penanda sindroma ovarium polikistik (PCOS). Hal ini akibat ketidakseimbangan hormon dimana tubuh memproduksi hormon pria, yaitu androgen, lebih banyak.
Kemungkinan besar, pengidap PCOC juga mengalami menstruasi yang tidak teratur, jerawat parah serta kesulitan menjaga berat badan yang sehat.
Bila hal ini Anda alami, konsultasi ke dokter dan lakukan tes darah untuk memeriksa kadar hormon Anda. PCOS meningkatkan risiko diabetes dan infertilitas. Tetapi, perubahan gaya hidup (seperti berhenti merokok dan menurunkan berat badan) serta obat pengatur hormon dapat membantu mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.
• VIVAnews
Tetapi, banyak sinyal bahaya lain dari tubuh yang jarang kita ketahui. Kenali beberapa diantaranya agar dapat melakukan deteksi dini dan memeriksakan diri, seperti dikutip dari Shine.
Alis memendek
Untuk mengetahuinya, tahan pensil tegak lurus ke sudut luar mata Anda, jika alis pendek dan tak menyentuh pensil, menunjukkan tiroid yang kurang aktif.
Hormon tiroid memiliki banyak fungsi, salah satunya mengatur seberapa cepat sel-sel memperbaiki diri. Saat kadar hormon tiroid rusak, efeknya dapat dilihat di hampir setiap sel dalam tubuh Anda. Kekurangan tiroid menyebabkan rambut lebih tipis, penambahan berat badan, kelelahan, dan sembelit.
Lakukan tes darah untuk mengetahui level hormon. Bila rendah, Anda memerlukan obat-obatan agar mengembalikan hormon ke tingkat normal.
Jari manis panjang
Pemilik jari manis lebih panjang memiliki risiko lebih tinggi menderita osteoarthritis. Sebuah studi 2008 dalam jurnal Arthritis & Rheumatism, menyebut, wanita dengan jari manis lebih panjang dari telunjuk dua kali lebih mungkin untuk menderita osteoarthritis.
Meskipun tidak diketahui pasti, ilmuwan menyebut hal ini kemungkinan akibat paparan testosteron dalam kandungan yang lebih tinggi.
Menurut riset Universitas North Carolina di Chapel Hill pada 2009, mengurangi kelebihan berat badan 5 persen dari berat tubuh dapat membantu mengurangi risiko osteoarthritis lutut, jenis yang paling sering dijumpai.
Kuku menguning
Warna kuku yang berubah bukan hanya dapat menunjukkan infeksi, tetapi juga sering buang air dan kehausan terus menerus. Kondisi diabetes dapat menyebabkan glukosa untuk meneruskan protein kolagen di kuku dari merah muda menjadi kuning.
Untuk itu, lakukan tes diabetes. Jika hasilnya positif, lakukan perubahan gaya hidup dan minum obat yang dapat mengontrol penyakit ini.
Rambut tebal di bagian wajah dan tubuh
Rambut yang tumbuh berupa tebal di dagu, pipi, dada, perut dan punggung bisa menjadi penanda sindroma ovarium polikistik (PCOS). Hal ini akibat ketidakseimbangan hormon dimana tubuh memproduksi hormon pria, yaitu androgen, lebih banyak.
Kemungkinan besar, pengidap PCOC juga mengalami menstruasi yang tidak teratur, jerawat parah serta kesulitan menjaga berat badan yang sehat.
Bila hal ini Anda alami, konsultasi ke dokter dan lakukan tes darah untuk memeriksa kadar hormon Anda. PCOS meningkatkan risiko diabetes dan infertilitas. Tetapi, perubahan gaya hidup (seperti berhenti merokok dan menurunkan berat badan) serta obat pengatur hormon dapat membantu mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.
• VIVAnews
Cara Murah Cegah Penyakit Jantung
VIVAnews - Melakukan hobi dan berkumpul bersama orang dicintai tentu sangat membahagiakan. Tahukah Anda, perasaan bahagia ternyata berdampak besar bagi kesehatan?
Sekelompok ilmuwan menemukan, tingkat kepuasan seseorang terhadap pekerjaan, keluarga, kehidupan seks serta diri sendiri terkait dengan risiko penyakit jantung koroner. Semakin tinggi tingkat kepuasan, semakin kecil risiko terkena penyakit tersebut.
Penelitian ini melibatkan 8000 staf pemerintah di Inggris. Para ilmuwan menanyakan tentang tujuh hal spesifik dalam hidup partisipan sehari– hari, yaitu: hubungan asmara, aktivitas santai, standar hidup, pekerjaan, keluarga, seks dan diri sendiri. Mereka semua diminta untuk menilai tingkat kepuasan mereka dari skala 1 (sangat tidak puas) sampai 7 (sangat puas).
Setelah enam tahun, para ilmuwan melihat perkembangan kondisi para partisipan yang dikaitkan dengan kematian karena penyakit koroner yaitu serangan jantung yang biasa dijuluki angin duduk. Partisipan dengan tingkat kepuasan di atas rata–rata memiliki risiko terkena penyakit jantung koroner lebih rendah 13 persen ketimbang mereka yang merasa kurang bahagia.
Seperti yang dikutip dari My Health News Daily, kepuasan terhadap pekerjaan, keluarga, seks dan diri sendiri adalah faktor terpenting mencegah penyakit jantung. Hasil itu didapat setelah para ilmuwan memeriksa faktor lain penyebab penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi dan indeks massa tubuh (BMI).
Depresi dan kecemasan adalah faktor penyebab penyakit jantung yang sudah lama diklarifikasi kebenarannya. Namun, masih ada keraguan dengan keadaan psikologi yang baik seperti tingkat kepuasaan terhadap hidup.
“Penemuan ini menyatakan bahwa meningkatkan kondisi psikologi seseorang (bukan hanya mengurangi hal – hal negatif) dapat berguna bagi individu yang beresiko tinggi terjangkit penyakit ini,” kata salah satu peneliti, Julia Boehm dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Harvard, Boston.
Jadi, bagaimana dengan Anda? (Rudy Bun)
• VIVAnews
Sekelompok ilmuwan menemukan, tingkat kepuasan seseorang terhadap pekerjaan, keluarga, kehidupan seks serta diri sendiri terkait dengan risiko penyakit jantung koroner. Semakin tinggi tingkat kepuasan, semakin kecil risiko terkena penyakit tersebut.
Penelitian ini melibatkan 8000 staf pemerintah di Inggris. Para ilmuwan menanyakan tentang tujuh hal spesifik dalam hidup partisipan sehari– hari, yaitu: hubungan asmara, aktivitas santai, standar hidup, pekerjaan, keluarga, seks dan diri sendiri. Mereka semua diminta untuk menilai tingkat kepuasan mereka dari skala 1 (sangat tidak puas) sampai 7 (sangat puas).
Setelah enam tahun, para ilmuwan melihat perkembangan kondisi para partisipan yang dikaitkan dengan kematian karena penyakit koroner yaitu serangan jantung yang biasa dijuluki angin duduk. Partisipan dengan tingkat kepuasan di atas rata–rata memiliki risiko terkena penyakit jantung koroner lebih rendah 13 persen ketimbang mereka yang merasa kurang bahagia.
Seperti yang dikutip dari My Health News Daily, kepuasan terhadap pekerjaan, keluarga, seks dan diri sendiri adalah faktor terpenting mencegah penyakit jantung. Hasil itu didapat setelah para ilmuwan memeriksa faktor lain penyebab penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi dan indeks massa tubuh (BMI).
Depresi dan kecemasan adalah faktor penyebab penyakit jantung yang sudah lama diklarifikasi kebenarannya. Namun, masih ada keraguan dengan keadaan psikologi yang baik seperti tingkat kepuasaan terhadap hidup.
“Penemuan ini menyatakan bahwa meningkatkan kondisi psikologi seseorang (bukan hanya mengurangi hal – hal negatif) dapat berguna bagi individu yang beresiko tinggi terjangkit penyakit ini,” kata salah satu peneliti, Julia Boehm dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Harvard, Boston.
Jadi, bagaimana dengan Anda? (Rudy Bun)
• VIVAnews
Tangkal Efek Negatif Lemak dengan Rempah
VIVAnews - Makanan berlemak tinggi memang membuat lidah ketagihan. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan, tentunya berdampak buruk bagi kesehatan Anda. Untuk menyiasatinya, ada trik khusus yang bisa Anda lakukan.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pennsylvania State University, Amerika Serikat, menemukan kalau efek negatif dari makanan berlemak tinggi dapat dikurangi dengan campuran bumbu-bumbu nikmat, seperti kunyit, kayu manis, paprika, dan lada hitam.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition tersebut, dengan menambahkan bumbu-bumbu tersebut dapat mengurangi level trigliserida hingga 30 persen. Hal ini dibandingkan jika makanan tersebut tidak diberikan bumbu sama sekali. Trigliserida merupakan jenis lemak yang ditemukan dalam aliran darah.
Dalam penelitian, tim melibatkan enam orang pria yang kelebihan berat badan berusia antara 30 hingga 65 tahun. Mereka diberikan makanan antara lain, kari ayam, roti Italian bertabur bumbu, dan biskuit kayu manis.
Pada makanan mereka ditambahkan dua sendok makan rempah-rempah. Seperti rosemary, oregano, kayu manis, kunyit, lada hitam, irisan bawang putih, atau bawang putih bubuk.
Rempah tersebut dipilih karena mengandung antioksidan potensial. Para peneliti mengambil darah dari responden setiap 30 menit selama tiga jam. Mereka menemukan bahwa aktivitas antioksidan di dalam darah meningkat 13 persen, sedangkan respons insulin menurun sebesar 20 persen setelah makan makanan kaya bumbu rempah.
Dosis antioksidan rempah-rempah yang diberikan setara dengan antioksidan yang terkandung dalam lima ons anggur merah atau 1,4 ons dark chocolate. Para peneliti juga mengungkapkan, jika stres oksidatif berkontribusi terhadap penyakit kronis seperti penyakit jantung, arthritis, dan diabetes, antioksidan bisa membantu dalam memerangi efek negatifnya.
Studi lain yang dilakukan tim dari University of Georgia juga menemukan bumbu dan rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, oregano, dan sage bisa menghambat kerusakan jaringan serta peradangan yang disebabkan oleh kadar gula darah tinggi. Jadi, mulai sekarang perbanyak bumbu rempah dalam masakan berlemak untuk mengurangi efek negatifnya. (art)
• VIVAnews
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pennsylvania State University, Amerika Serikat, menemukan kalau efek negatif dari makanan berlemak tinggi dapat dikurangi dengan campuran bumbu-bumbu nikmat, seperti kunyit, kayu manis, paprika, dan lada hitam.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition tersebut, dengan menambahkan bumbu-bumbu tersebut dapat mengurangi level trigliserida hingga 30 persen. Hal ini dibandingkan jika makanan tersebut tidak diberikan bumbu sama sekali. Trigliserida merupakan jenis lemak yang ditemukan dalam aliran darah.
Dalam penelitian, tim melibatkan enam orang pria yang kelebihan berat badan berusia antara 30 hingga 65 tahun. Mereka diberikan makanan antara lain, kari ayam, roti Italian bertabur bumbu, dan biskuit kayu manis.
Pada makanan mereka ditambahkan dua sendok makan rempah-rempah. Seperti rosemary, oregano, kayu manis, kunyit, lada hitam, irisan bawang putih, atau bawang putih bubuk.
Rempah tersebut dipilih karena mengandung antioksidan potensial. Para peneliti mengambil darah dari responden setiap 30 menit selama tiga jam. Mereka menemukan bahwa aktivitas antioksidan di dalam darah meningkat 13 persen, sedangkan respons insulin menurun sebesar 20 persen setelah makan makanan kaya bumbu rempah.
Dosis antioksidan rempah-rempah yang diberikan setara dengan antioksidan yang terkandung dalam lima ons anggur merah atau 1,4 ons dark chocolate. Para peneliti juga mengungkapkan, jika stres oksidatif berkontribusi terhadap penyakit kronis seperti penyakit jantung, arthritis, dan diabetes, antioksidan bisa membantu dalam memerangi efek negatifnya.
Studi lain yang dilakukan tim dari University of Georgia juga menemukan bumbu dan rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, oregano, dan sage bisa menghambat kerusakan jaringan serta peradangan yang disebabkan oleh kadar gula darah tinggi. Jadi, mulai sekarang perbanyak bumbu rempah dalam masakan berlemak untuk mengurangi efek negatifnya. (art)
• VIVAnews
Sabtu, 30 Juli 2011
Kurang Minum Tingkatkan Risiko Depresi
VIVAnews - Berdiet sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern, terutama wanita. Tak jarang, selama diet mereka mengurangi asupan air agar cepat memperoleh tubuh langsing.
Sebuah riset terbaru menemukan, kecenderungan depresi berhubungan dengan kekurangan air. Ini terutama ditemukan dalam diet yang dilakukan wanita. Para peneliti dari Universitas Tufts melakukan eksperimen dengan membatasi asupan air pada sekelompok responden. Sedangkan kelompok lainnya diberi asupan air sesuai yang direkomendasikan.
Dari situ diketahui, kelompok yang kekurangan cairan memiliki perubahan suasana hati yang cepat, cenderung depresi dan kelelahan. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda amarah berlebih serta lebih sering gugup dan bingung. Kendati penyebab utamanya belum jelas, peneliti menduga hal tersebut akibat penurunan kemampuan berpikir.
Menurut para ahli, air merupakan komponen utama aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak. Jumlah air yang diperlukan masing-masing individu berbeda tergantung pada jenis aktivitas, berat fisik seseorang dan cuaca. Umumnya, tiap orang rata-rata membutuhkan 8-9 gelas air putih sehari.
Pada studi yang lain, Badan Kesehatan Dunia memprediksi, pada 2020 depresi akan menjadi penyakit nomor satu di dunia. Depresi akan menggantikan pembunuh saat ini, yakni penyakit menular dan kardiovaskular. (adi)
• VIVAnews
Sebuah riset terbaru menemukan, kecenderungan depresi berhubungan dengan kekurangan air. Ini terutama ditemukan dalam diet yang dilakukan wanita. Para peneliti dari Universitas Tufts melakukan eksperimen dengan membatasi asupan air pada sekelompok responden. Sedangkan kelompok lainnya diberi asupan air sesuai yang direkomendasikan.
Dari situ diketahui, kelompok yang kekurangan cairan memiliki perubahan suasana hati yang cepat, cenderung depresi dan kelelahan. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda amarah berlebih serta lebih sering gugup dan bingung. Kendati penyebab utamanya belum jelas, peneliti menduga hal tersebut akibat penurunan kemampuan berpikir.
Menurut para ahli, air merupakan komponen utama aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak. Jumlah air yang diperlukan masing-masing individu berbeda tergantung pada jenis aktivitas, berat fisik seseorang dan cuaca. Umumnya, tiap orang rata-rata membutuhkan 8-9 gelas air putih sehari.
Pada studi yang lain, Badan Kesehatan Dunia memprediksi, pada 2020 depresi akan menjadi penyakit nomor satu di dunia. Depresi akan menggantikan pembunuh saat ini, yakni penyakit menular dan kardiovaskular. (adi)
• VIVAnews
Langganan:
Komentar (Atom)