VIVAnews- Orangtua mana yang tak senang, melihat anaknya doyan mengonsumsi makanan. Apalagi, jika si kecil yang awalnya susah sekali makan menjadi tertarik untuk makan banyak. Jika kondisi ini tiba-tiba terjadi pada si buah hati, sebagai orangtua, Anda perlu waspada. Bisa jadi, ini merupakan salah satu gejala anak mengidap diabetes melitus tipe 1 (DM1).
Penyakit DM1 saat ini bukan hanya populer diderita oleh kalangan orang dewasa. Anak-anak mulai dari usia 7-12 tahun kini juga banyak yang terdeteksi menderita diabetes. Penyebabnya bukanlah dari faktor genetik, kasus DM1 yang banyak diderita anak-anak merupakan penyakit autoimun. Hanya 10 persen DM1 yang terjaid pada anak karena faktor genetik.
“Gejalanya bukan hanya banyak makan. Jika anak memiliki gejala lainnya seperti banyak minum, sering buang air kecil dan berat badan terus turun, Anda perlu waspada dan jangan tunda melakukan cek kadar gula darah anak,” kata dokter spesialis anak, dr. Erwin P. Soenggoro, SpA (K) dalam Seminar Media tentang Diabetes Melitus di Hotel Akmani, Jakarta.
Menurut Erwin, DM1 yang terjadi pada anak-anak merupakan salah satu penyakit kronis yang perlu penanganan khusus karena dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan data yang terkumpul di Unit Kerja (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sampai 13 Oktober 2011, ada sebanyak 709 anak penyandang DM tipe 1. Dengan rincian, 417 anak perempuan dan 282 anak laki-laki, serta 10 laporan kasus tanpa data lengkap. Jika dibandingkan dengan data pada Mei 2009, yaitu 156 penyandang dengan 86 perempuan dan 70 anak laki-laki, data ini menunjukkan peningkatan jumlah penyandang sebesar 553 dalam kurun waktu dua tahun.
Faktor resiko diabetes pada anak sangat banyak. Bisa dipengaruhi karena faktor lingkungan, kekurangan vitamin D, infeksi virus, pola hidup tak sehat termasuk pola makan yang buruk dan faktor kebersihan yang terabaikan. DM1 yang menyerang anak-anak adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme glukosa yang ditandai oleh hiperglikemia kronik. Keadaan ini terjadi siakibatkan oleh kerusakan sel penghasil insulin di kelenjar pankreas sehingga insulin berkurang bahkan terhenti. Seperti diketahui, hormon insulin sangat bermanfaat menjaga keseimbangan gula dalam tubuh.
“Kerusakan pankreas bisa terjadi akibat sel-sel pertahanan tubuh yang bereaksi berlebih, sehingga akhirnya merusak pankreas,” katanya.
Jika anak sudah terlanjur menderita DM1, pengelolaan penyakit ini perlu dilakukan melalui satu sistemn komprehensif yang meliputi pemeberian insulin, pengaturan makan, olahraga, pemantauan rutin dan edukasi. Walau DM1 sampai saat ini belum dapat disembuhkan, namun, kualitas penyandangnya dapat dipertahankan secara optimal, yakni tetap dengan kontrol yang baik.
“Untuk itu, waspadai gejalanya pada anak”.
• VIVAnews
Sabtu, 29 Oktober 2011
Kepala Botak Tumbuh Rambut dalam 30 Detik
VIVAnews - Kebotakan adalah mimpi buruk bagi semua orang, baik pria dan wanita. Tak heran muncul beragam perawatan untuk mengatasi kebotakan. Hanya, butuh waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan rambut secara alami.
Sementara cara instan menggunakan wig, menimbulkan ketidaknyamanan. Penggunaan wig jangka panjang bisa memicu rambut rontok, bahkan merusak kulit kepala. Lalu, adakah produk yang mampu menutupi kebotakan secara instan, dengan rasa nyaman, dan tampak alami?
Jika Anda mengunjungi negeri jiran Malaysia, atau CosmoBeaute di Jakarta Convention Center akhir minggu ini, Anda akan dibuat takjub dengan inovasi transplantasi rambut yang mampu membuat rambut tebal alami secara instan dan tidak sakit.
Teknologi ini dikembangkan oleh BioThik Clinicare lewat peluncuran produk perawatan kebotakan. Tak hanya produk perawatan yang dapat dipakai sehari-hari, tapi juga terdapat produk hair transplant yang mampu melebatkan rambut hanya dengan 30 detik. Ini yang unik!
Produk Biothik Hair Transplant ini terdiri dari Hair Building Fiber dan Fiber Locking Mist. Hair Building Fiber, terbuat dari serbuk serat protein keratin sepanjang 0,3-0,5 mm. Cukup tabur serbuk ini di area kebotakan, seketika kepala ditumbuhi rambut yang tampak tebal alami. Sedangkan Fiber Locking Mist disemprotkan untuk mempertahankan serat pada rambut.
Serat-serat tersebut mampu menempel pada helaian rambut dan tampak seperti rambut alami manusia. Bahkan, Hair Building Fiber terdiri dari 11 warna rambut alami dari hitam hingga putih platinum.
Produsen mengklaim bahwa aplikasi produk tersebut aman dan tidak akan memunculkan alergi ataupun luka pada kulit kepala. Akan tetapi, transplantasi rambut ini tidak tahan lama karena akan hilang ketika rambut dicuci. Meski demikian, ini masih lebih baik dari pada menggunakan wig seharian.
Sayangnya, belum ada distributor yang memasarkan produk ini di Indonesia. Di Malaysia sendiri, konsumen harus merogoh kocek hingga kurang lebih Rp500 ribu untuk mendapat kedua produk tersebut.
Tertarik mencoba?
• VIVAnews
Sementara cara instan menggunakan wig, menimbulkan ketidaknyamanan. Penggunaan wig jangka panjang bisa memicu rambut rontok, bahkan merusak kulit kepala. Lalu, adakah produk yang mampu menutupi kebotakan secara instan, dengan rasa nyaman, dan tampak alami?
Jika Anda mengunjungi negeri jiran Malaysia, atau CosmoBeaute di Jakarta Convention Center akhir minggu ini, Anda akan dibuat takjub dengan inovasi transplantasi rambut yang mampu membuat rambut tebal alami secara instan dan tidak sakit.
Teknologi ini dikembangkan oleh BioThik Clinicare lewat peluncuran produk perawatan kebotakan. Tak hanya produk perawatan yang dapat dipakai sehari-hari, tapi juga terdapat produk hair transplant yang mampu melebatkan rambut hanya dengan 30 detik. Ini yang unik!
Produk Biothik Hair Transplant ini terdiri dari Hair Building Fiber dan Fiber Locking Mist. Hair Building Fiber, terbuat dari serbuk serat protein keratin sepanjang 0,3-0,5 mm. Cukup tabur serbuk ini di area kebotakan, seketika kepala ditumbuhi rambut yang tampak tebal alami. Sedangkan Fiber Locking Mist disemprotkan untuk mempertahankan serat pada rambut.
Serat-serat tersebut mampu menempel pada helaian rambut dan tampak seperti rambut alami manusia. Bahkan, Hair Building Fiber terdiri dari 11 warna rambut alami dari hitam hingga putih platinum.
Produsen mengklaim bahwa aplikasi produk tersebut aman dan tidak akan memunculkan alergi ataupun luka pada kulit kepala. Akan tetapi, transplantasi rambut ini tidak tahan lama karena akan hilang ketika rambut dicuci. Meski demikian, ini masih lebih baik dari pada menggunakan wig seharian.
Sayangnya, belum ada distributor yang memasarkan produk ini di Indonesia. Di Malaysia sendiri, konsumen harus merogoh kocek hingga kurang lebih Rp500 ribu untuk mendapat kedua produk tersebut.
Tertarik mencoba?
• VIVAnews
Inhaler Kafein Pembangkit Energi
VIVAnews - Saat tubuh terasa lelah dan Anda harus melakukan banyak aktivitas, mengonsumsi suplemen biasanya dilakukan untuk menyiasatinya. Namun, kini sedang dikembangkan cara lain yang lebih praktis, yaitu dengan menghirup kafein.
Tim dari Universitas Harvard, Amerika Serikat dan AeroShot saat ini sedang dalam proses mengembangkan inhaler kafein. Alat ini nantinya bisa membangkitkan energi secara instan dengan memanfaatkan kafein.
Bentuknya cukup sederhana dan mudah dibawa, yaitu berupa tabung kecil yang berisi 100 miligram kafein, atau setara dengan segelas kopi ukuran besar. Rencananya, inhaler kafein ini akan diluncurkan tahun 2012.
Tak seperti inhaler untuk penderita asma, produk ini bentuknya lebih mirip lipstik dengan perpaduan warna kuning dan abu-abu. Didalamnya terdapat kafein berbentuk bubuk.
"Pengguna tinggal menarik salah satu bagian ujung untuk membuka tabung. Lalu, bubuk kafein pun akan masuk ke dalam mulut," kata David Edwards, pihak dari AeroShot, dikutip dari NYDailynews.
Ini sebenarnya bukan kali pertama produk jenis ini diciptakan. Sebelumnya, Starbucks membuat prototipe yang mirip pada 2006 dengan perpaduan rasa mint dan kafein. Anda tertarik menggunakannya?
• VIVAnews
Tim dari Universitas Harvard, Amerika Serikat dan AeroShot saat ini sedang dalam proses mengembangkan inhaler kafein. Alat ini nantinya bisa membangkitkan energi secara instan dengan memanfaatkan kafein.
Bentuknya cukup sederhana dan mudah dibawa, yaitu berupa tabung kecil yang berisi 100 miligram kafein, atau setara dengan segelas kopi ukuran besar. Rencananya, inhaler kafein ini akan diluncurkan tahun 2012.
Tak seperti inhaler untuk penderita asma, produk ini bentuknya lebih mirip lipstik dengan perpaduan warna kuning dan abu-abu. Didalamnya terdapat kafein berbentuk bubuk.
"Pengguna tinggal menarik salah satu bagian ujung untuk membuka tabung. Lalu, bubuk kafein pun akan masuk ke dalam mulut," kata David Edwards, pihak dari AeroShot, dikutip dari NYDailynews.
Ini sebenarnya bukan kali pertama produk jenis ini diciptakan. Sebelumnya, Starbucks membuat prototipe yang mirip pada 2006 dengan perpaduan rasa mint dan kafein. Anda tertarik menggunakannya?
• VIVAnews
Menkes: Stroke Penyebab Utama Kematian di RI
VIVAnews - Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, mengatakan stroke bisa menjangkit kepada semua orang tidak bergantung pada faktor umur. Stroke juga tidak peduli status sosial, kaya atau miskin.
"Kami tekankan di hari stroke sedunia ini adalah stroke itu bisa kena semua orang, semua umur, bukan kita tunggu tua dulu baru kena stroke," kata Endang dalam sambutannya pada aksi peduli Peringatan Hari Stroke Sedunia, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2011.
Endang menjelaskan, stroke adalah penyebab kematian yang utama di Indonesia. Porsinya mencapai 15,4 persen dari total penyebab kematian. Artinya, satu dari tujuh orang yang meninggal dikarenakan stroke.
Selain itu, tegas Endang, stroke juga tidak bergantung pada kondisi sosial dan ekonomi seseorang. Berdasarkan data yang dimiliki oleh panitia peringatan hari stroke sedunia, angka kejadian stroke terus meningkat dan sebagian besar penderita stroke berada di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Prevalensi (angka kejadian) stroke di Indonesia berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 adalah delapan per seribu penduduk atau 0,8 persen. Sebagai perbandingan, prevalensi stroke di Amerika Serikat adalah 3,4 per persen per 100 ribu penduduk, di Singapura 55 per 100 ribu penduduk dan di Thailand 11 per 100 ribu penduduk.
Dari jumlah total penderita stroke di Indonesia, sekitar 2,5 persen atau 250 ribu orang meninggal dunia dan sisanya cacat ringan maupun berat. Pada 2020 mendatang diperkirakan 7,6 juta orang akan meninggal karena stroke.
Peningkatan angka stroke di Indonesia diperkirakan berkaitan dengan peningkatan angka kejadian faktor risiko stroke. Faktor yang ditemukan beresiko terhadap stroke adalah diabetes melitus, gangguan kesehatan mental, hipertensi, merokok, dan obesitas abnormal.
• VIVAnews
"Kami tekankan di hari stroke sedunia ini adalah stroke itu bisa kena semua orang, semua umur, bukan kita tunggu tua dulu baru kena stroke," kata Endang dalam sambutannya pada aksi peduli Peringatan Hari Stroke Sedunia, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2011.
Endang menjelaskan, stroke adalah penyebab kematian yang utama di Indonesia. Porsinya mencapai 15,4 persen dari total penyebab kematian. Artinya, satu dari tujuh orang yang meninggal dikarenakan stroke.
Selain itu, tegas Endang, stroke juga tidak bergantung pada kondisi sosial dan ekonomi seseorang. Berdasarkan data yang dimiliki oleh panitia peringatan hari stroke sedunia, angka kejadian stroke terus meningkat dan sebagian besar penderita stroke berada di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Prevalensi (angka kejadian) stroke di Indonesia berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 adalah delapan per seribu penduduk atau 0,8 persen. Sebagai perbandingan, prevalensi stroke di Amerika Serikat adalah 3,4 per persen per 100 ribu penduduk, di Singapura 55 per 100 ribu penduduk dan di Thailand 11 per 100 ribu penduduk.
Dari jumlah total penderita stroke di Indonesia, sekitar 2,5 persen atau 250 ribu orang meninggal dunia dan sisanya cacat ringan maupun berat. Pada 2020 mendatang diperkirakan 7,6 juta orang akan meninggal karena stroke.
Peningkatan angka stroke di Indonesia diperkirakan berkaitan dengan peningkatan angka kejadian faktor risiko stroke. Faktor yang ditemukan beresiko terhadap stroke adalah diabetes melitus, gangguan kesehatan mental, hipertensi, merokok, dan obesitas abnormal.
• VIVAnews
Cegah Stroke Ala Menteri Kesehatan
VIVAnews - Penyakit Stroke menjangkiti ratusan ribu orang dan merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia. Untuk mencegahnya, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, memiliki cara untuk mencegah stroke hinggap.
Salah satunya, kata Endang, adalah dengan menurunkan kadar hipertensi dan meminum banyak air. "Minum banyak air putih, kurangi makan garam, kurangi gula dan konsumsi lemak. Kalau punya hipertensi, segera berobat agar turun kadarnya," kata Endang pada aksi peduli peringatan hari stroke sedunia, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu 29 Oktober 2011.
Dari data Kementerian Kesehatan, sekitar 70 persen penderita stroke akan membutuhkan perawatan jangka panjang sehingga perawatan khusus harus dilanjutkan dirumah oleh keluarga dan masyarakat. Perilaku tidak sehat, kata Endang, harus juga segera diubah.
"Jangan merokok, jangan minum alkohol, olahraga teratur, banyak makan sayur dan buah, dan kurangi stres," jelas Endang lagi.
Data Kemenkes menunjukkan, sebanyak 31 persen penderita stroke mengalami ketergantungan total dan parsial, 20 persen perlu bantuan untuk berjalan. Sebanyak 16 persen memerlukan perawatan pada rumah perawatan khusus stroke, 71 persen mengalami hambatan pekerjaan sesudah tujuh tahun dan 34 persen menjadi pengangguran di usia kurang dari 65 tahun.
Disabilitas akibat stroke tidak hanya memberikan beban ekonomi bagi keluarga, namun juga beban mental emosional yang mengganggu produktifitas anggota keluarga lainnya. Untuk itu, pemerintah akan memberikan pelatihan kepada dokter dan keluarga yang menjaga penderita selama di rumah.
"Penderita stroke harus menjalani perawatan rehabilitasi di rumah sehingga perlu orang-orang yang terlatih," kata Endang.
Penanganan pasien stroke, kata Endang, dipersulit oleh kurangnya tenaga dokter ahli syaraf di Indonesia. Dia mengatakan di Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar kurang dari 1.000 dokter syaraf. Jumlah ini terlalu sedikit, dibandingkan dengan jumlah penduduk.
• VIVAnews
Salah satunya, kata Endang, adalah dengan menurunkan kadar hipertensi dan meminum banyak air. "Minum banyak air putih, kurangi makan garam, kurangi gula dan konsumsi lemak. Kalau punya hipertensi, segera berobat agar turun kadarnya," kata Endang pada aksi peduli peringatan hari stroke sedunia, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu 29 Oktober 2011.
Dari data Kementerian Kesehatan, sekitar 70 persen penderita stroke akan membutuhkan perawatan jangka panjang sehingga perawatan khusus harus dilanjutkan dirumah oleh keluarga dan masyarakat. Perilaku tidak sehat, kata Endang, harus juga segera diubah.
"Jangan merokok, jangan minum alkohol, olahraga teratur, banyak makan sayur dan buah, dan kurangi stres," jelas Endang lagi.
Data Kemenkes menunjukkan, sebanyak 31 persen penderita stroke mengalami ketergantungan total dan parsial, 20 persen perlu bantuan untuk berjalan. Sebanyak 16 persen memerlukan perawatan pada rumah perawatan khusus stroke, 71 persen mengalami hambatan pekerjaan sesudah tujuh tahun dan 34 persen menjadi pengangguran di usia kurang dari 65 tahun.
Disabilitas akibat stroke tidak hanya memberikan beban ekonomi bagi keluarga, namun juga beban mental emosional yang mengganggu produktifitas anggota keluarga lainnya. Untuk itu, pemerintah akan memberikan pelatihan kepada dokter dan keluarga yang menjaga penderita selama di rumah.
"Penderita stroke harus menjalani perawatan rehabilitasi di rumah sehingga perlu orang-orang yang terlatih," kata Endang.
Penanganan pasien stroke, kata Endang, dipersulit oleh kurangnya tenaga dokter ahli syaraf di Indonesia. Dia mengatakan di Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar kurang dari 1.000 dokter syaraf. Jumlah ini terlalu sedikit, dibandingkan dengan jumlah penduduk.
• VIVAnews
Tiga Cara Sederhana Atasi Insomnia
VIVAnews – Selama ini insomnia kerap dianggap sebagai gangguan tidur biasa. Namun, sebuah penelitian terbaru di Norwegia menemukan, orang sulit tidur di malam hari berisiko terkena masalah jantung lebih tinggi 45 persen daripada mereka yang dapat segera terlelap.
Insomnia sebetulnya bisa diatasi dengan cara sederhana. Salah satunya dengan melakukan hipnosis (keadaan seperti tidur karena sugesti) yang bertujuan meningkatkan kualitas tidur seseorang.
“Hipnosis mengurangi aktivitas otak secara keseluruhan, termasuk di area yang terkait dengan perasaan cemas sehingga Anda merasa lebih rileks,” ungkap Mark P. Jensen, Ph.D, wakil ketua penelitian di Department of Rehabilitation Medicine, University of Washington seperti dikutip dari laman Prevention.com.
Berikut adalah teknik sederhana 3-2-1 yang dianjurkan Dr. Jensen agar Anda lebih cepat tertidur:
- Dengarkan tiga hal (seperti dengung AC atau suara napas pasangan Anda).
- Melihat tiga hal (pikirkan tentang gambar tempat favorit Anda atau langit biru yang luas).
- Merasakan tiga hal (seprai lembut yang menyentuh kulit, angin sejuk dari jendela yang terbuka).
(umi)
• VIVAnews
Insomnia sebetulnya bisa diatasi dengan cara sederhana. Salah satunya dengan melakukan hipnosis (keadaan seperti tidur karena sugesti) yang bertujuan meningkatkan kualitas tidur seseorang.
“Hipnosis mengurangi aktivitas otak secara keseluruhan, termasuk di area yang terkait dengan perasaan cemas sehingga Anda merasa lebih rileks,” ungkap Mark P. Jensen, Ph.D, wakil ketua penelitian di Department of Rehabilitation Medicine, University of Washington seperti dikutip dari laman Prevention.com.
Berikut adalah teknik sederhana 3-2-1 yang dianjurkan Dr. Jensen agar Anda lebih cepat tertidur:
- Dengarkan tiga hal (seperti dengung AC atau suara napas pasangan Anda).
- Melihat tiga hal (pikirkan tentang gambar tempat favorit Anda atau langit biru yang luas).
- Merasakan tiga hal (seprai lembut yang menyentuh kulit, angin sejuk dari jendela yang terbuka).
(umi)
• VIVAnews
Studi: Minuman Bersoda Tingkatkan Agresivitas
VIVAnews - Remaja cenderung lebih agresif dan kasar jika mengonsumsi soft drink secara teratur. Berdasar penelitian Universitas Vermont, konsumsi minuman bersoda setidaknya lima kali dalam seminggu mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih agresif atau kasar.
Seperti dilansir dari Female First, para peneliti mencoba mengamati perilaku beberapa remaja yang terbiasa mengonsumsi minuman bersoda.
Sebanyak 23 persen remaja yang minum satu kaleng minuman bersoda dalam seminggu menunjukkan perilaku buruk dengan keinginan membawa senjata. Tingkat agresivitas melonjak pada 43 persen remaja yang mengonsumsi 14 kaleng seminggu.
Semakin banyak minuman bersoda yang dikonsumsi, semakin banyak pula angka kejadian kekerasan terhadap teman sebaya. Hal ini dapat dilihat dari lonjakan angka kejadian kekerasan dari 35 persen menjadi 58 persen pada kelompok remaja yang sama.
"Kami melihat bahwa peningkatan konsumsi soft drink dapat meningkatkan tingkat kekerasan terhadap teman-teman sebaya mereka," ujar penulis studi Dr Sara Solnick.
Namun sayang, mereka belum mengetahui dengan jelas hubungan antara minuman bersoda dan perilaku buruk remaja. "Kami belum mengetahui alasan di balik itu. Sulit mengatakan ini karena kandungan gula di dalam soft drink, karena gula juga terkandung dalam banyak produk. Mungkin ada bahan lain di dalam soft drink yang menjadi faktor penyebabnya."
Meski demikian, penelitian yang diterbitkan oleh Injury Prevention masih harus dibuktikan lagi kebenarannya dengan penelitian yang lebih lengkap. Pasalnya, penelitian tersebut tidak memperhitungkan pendapatan keluarga dan pola asuh, sehingga informasi yang didapat masih sangat terbatas. (umi)
Seperti dilansir dari Female First, para peneliti mencoba mengamati perilaku beberapa remaja yang terbiasa mengonsumsi minuman bersoda.
Sebanyak 23 persen remaja yang minum satu kaleng minuman bersoda dalam seminggu menunjukkan perilaku buruk dengan keinginan membawa senjata. Tingkat agresivitas melonjak pada 43 persen remaja yang mengonsumsi 14 kaleng seminggu.
Semakin banyak minuman bersoda yang dikonsumsi, semakin banyak pula angka kejadian kekerasan terhadap teman sebaya. Hal ini dapat dilihat dari lonjakan angka kejadian kekerasan dari 35 persen menjadi 58 persen pada kelompok remaja yang sama.
"Kami melihat bahwa peningkatan konsumsi soft drink dapat meningkatkan tingkat kekerasan terhadap teman-teman sebaya mereka," ujar penulis studi Dr Sara Solnick.
Namun sayang, mereka belum mengetahui dengan jelas hubungan antara minuman bersoda dan perilaku buruk remaja. "Kami belum mengetahui alasan di balik itu. Sulit mengatakan ini karena kandungan gula di dalam soft drink, karena gula juga terkandung dalam banyak produk. Mungkin ada bahan lain di dalam soft drink yang menjadi faktor penyebabnya."
Meski demikian, penelitian yang diterbitkan oleh Injury Prevention masih harus dibuktikan lagi kebenarannya dengan penelitian yang lebih lengkap. Pasalnya, penelitian tersebut tidak memperhitungkan pendapatan keluarga dan pola asuh, sehingga informasi yang didapat masih sangat terbatas. (umi)
Langganan:
Komentar (Atom)